News

Kadin RFBH bersama APHI dan Mitra Matangkan Rekomendasi Lanskap MUK 

Usulan Lanskap Multiusaha Kehutanan (MUK) akan dimatangkan dan segera dijajaki. Hal ini menjadi topik utama yang dibahas dalam pertemuan Kadin Regenerative Forest Business Hub (RFBH) bersama asosiasi dan himpunan terkait, seperti Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), TITIAN LESTARI, Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), Systemiq, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI, serta Palladium, pada 31 Maret 2026 di Jakarta.

Project Coordinator Kadin RFBH Rukmantara mengatakan, pembahasan tersebut merupakan tindak lanjut pada pertemuan sebelumnya, yakni untuk memastikan kesinambungan integrasi workplan antar mitra yang saling berkaitan.

“Kami harapkan usulan lanskap piloting MUK bisa dipaparkan pada bulan April 2026. Sudah ada beberapa lanskap yang akan kita rekomendasikan, parallel berjalan assessment lanskap lain yang belum dikunjungi dijajaki. Bersama-sama usulan ini akan dibawa ke MUK Task Force,” ungkap Rukmantara.

Perwakilan dari APHI, Purwadi mengatakan, ada beberapa lanskap yang masih menunggu peninjauan lanjutan dan rekomendasi kebijakan dari Kementerian Kehutanan.

“Saat ini masih proses penyusunan setelah mendapatkan timbal balik dan arahan dari Kementerian,” ujarnya.

Menurutnya, perhutanan sosial di lampung termasuk kuat dan berpotensi besar, serta memiliki PBPH (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan). Proses penilaian masih berlanjut untuk pengumpulan data agar sesuai dengan bobot yang telah ditentukan.

“Kami juga ada rencana kunjungan ke Jambi dan Sumatera Selatan pada April ini,” ujarnya.

Perwakilan dari TITIAN LESTARI, Yuyun Kurniawan mengatakan, Kakao dan Kopi menjadi komoditi yang sudah memiliki PBPH, masih menunggu skema yang sesuai.

Ia menyebutkan, masyarakat di lanskap Bentala memiliki ketertarikan yang cukup tinggi pada komoditas kakao, terlihat dari berbagai kegiatan yang sudah dilakukan.

Sementara itu, lanskap Bangka memiliki potensi yang besar pada komoditas rempah. lanskap Lampung cukup potensial untuk memenuhi permintaan kopi. Lanskap Kalimantan juga memiliki potensial volume cukup tinggi dan masih perlu peningkatan kualitas untuk budidaya coklat.

Baca Juga :  Tantangan dan Peluang untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati

Perwakilan dari Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), Gita Syahrani menjelaskan, potensi pasar coklat dari Belanda sudah ada analisis detail terkait kriteria yang dapat diterima oleh pasar (Pipiltin, TERFE, Krakakoa). Demikian juga dengan kriteria market untuk kopi sudah dilakukan. Teridentifikasi adanya market yang siap untuk menerima sample.

“Bisa menjadi peluang untuk mengirim sampel untuk identifikasi apa yang perlu ditingkatkan, utamanya terkait PBPH”.

Ia juga menyebutkan, vanila diperlukan grade A untuk masuk ke market premium. Sementara untuk coklat, lankap di Berrau sudah disasar untuk pengecekan kebun kakao.

Perwakilan dari Systemiq, Hanny C mengatakan untuk lanskap Lampung dan Bangka Belitung bisa diusulkan dengan dilengkapi analisis untuk dijadikan lanskap potensial dilakukannya piloting.

“Terkait komoditas, bisa mulai dilakukan tes pasar berdasarkan potensi lokasi yang sudah dipetakan APHI, tanggapan dari buyer seperti apa. Meskipun, fokus komoditas pemilihan lanskap tetap diutamakan pada kopi, kakao, dan vanila,” kata Hanny.

Perwakilan dari KKI WARSI Warsi, Adi Junaedi mengungkapkan, pihaknya akan melanjutkan untuk menjajaki potensi lanskap di lanskap Merbak Sembilang, Sumatera Selatan. Dalam waktu dekat akan ada pertemuan dengan PBPH.

“Setiap mitra dapat memberikan informasi dengan melakukan penilaian lanskap dari berbagai aspek, sehingga proses penilaian dan pemilihan lanskap bisa dilakukan secara komprehensif,” ujarnya.

Ia mengatakan, Lampung dan Kalimantan sementara ini menjadi kandidat lanskap untuk dilihat lebih jauh sebagai yang diajukan untuk piloting.

Share this

Related Posts