News

Seperti Kolombia, Indonesia Berpeluang Besar Kembangkan Biodiversity Credit untuk Konservasi Bernilai Tinggi

Pada 19-23 Februari 2024 delegasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ikut melakukan kunjungan ke Cagar Alam El Globo, di Kolombia untuk mempelajari secara langsung implementasi biodiversity credit di lapangan.

Dari kunjungan tersebut, delegasi Kadin memperoleh pemahaman langsung mengenai bagaimana Terrasos, organisasi yang dikenal sebagai pionir dalam pengembangan biodiversity credit, mengembangkan investasi lingkungan (environmental investments) dalam proyek-proyek konservasi bernilai tinggi.

Hingga tahun 2024, lebih dari 30.000 hektare proyek kompensasi keanekaragaman hayati telah berhasil disusun secara matang, baik dari sisi teknis, finansial, maupun legal, menunjukkan bahwa konservasi dapat dikelola secara profesional dan terukur layaknya sebuah industri.

Lebih jauh, biodiversity credit menawarkan potensi besar untuk memberikan manfaat bagi alam, masyarakat, dan dunia usaha. Dengan jaminan integritas lingkungan dan sosial yang tinggi, instrumen ini dapat mendukung perlindungan ekosistem sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan komunitas lokal (Indigenous Peoples dan Local Communities/IPs dan LCs), serta membuka peluang penciptaan nilai bagi sektor swasta.

Bagi dunia usaha, biodiversity credit dengan integritas tinggi dapat menjadi instrumen strategis untuk mengurangi paparan terhadap risiko terkait alam, mendukung hasil positif yang selaras dengan preferensi konsumen, serta mengikuti dinamika regulasi yang terus berkembang. Selain itu, instrumen ini juga berperan dalam memperkuat social licence to operate, mengurangi risiko reputasi, membuka akses terhadap pembiayaan yang lebih kompetitif, serta meningkatkan daya tarik perusahaan dalam akuisisi dan retensi talenta.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa pendekatan utama (use case) yang mulai berkembang dalam pemanfaatan biodiversity credit. Di antaranya adalah meningkatkan kualitas kredit karbon agar memberikan dampak yang lebih baik bagi alam, memanfaatkan jasa ekosistem sebagai bagian dari input bisnis, berkontribusi pada pemulihan alam di luar dampak langsung perusahaan, serta mengembangkan proyek yang terintegrasi dengan upaya restorasi ekosistem.

Baca Juga :  Memperkuat Rantai Nilai Bisnis Hutan Regeneratif di Forum ISF 2024

Keempat pendekatan ini menunjukkan satu arah yang semakin jelas: masa depan ekonomi tidak lagi dapat dipisahkan dari kesehatan alam.

Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, peluang untuk mengembangkan biodiversity credit bahkan jauh lebih besar jika didukung oleh kerangka regulasi dan ekosistem pasar yang tepat.

Share this

Related Posts